Siapa Bilang On Time Itu Penting?!

13 Februari 2008 at 1:19 pm Tinggalkan komentar

JamSaat kita melakukan perjalanan, dan membeli tiket baik itu pesawat, kereta, ataupun kapal. Kita dituntut untuk datang memenuhi ‘panggilan’ tiket yang kita pesan. Kalo pesawatnya berangkat jam 12 siang, ya paling nggak jam 11 harus sudah check in. Artinya, kita harus berangkat lebih dari 1 jam sebelumnya (apalagi kalo di Jakarta, yang sewaktu banjir kemarin, perjalanan yang biasanya 2 jam ke bandara bisa makan waktu 8 jam!). Kalo kita check in telat, besar kemungkinan kita akan kehilangan kesempatan terbang dan kehilangan tiket kita.

Begitu juga saat jam makan siang atau jam istirahat kantor. Kebanyakan dari kita akan sangat tepat waktu. Jangankan terlambat 5 menit, terlambat 1 menit pun tidak! Sedikit saya melihat orang orang yang molor dalam memenuhi ‘panggilan’ perutnya 🙂

Pertanyaannya adalah, kenapa di saat saat tertentu justru kita sangat amat suka mempermainkan waktu terlambat?

Saat membuat janji kita sering terlambat, saat masuk kerja (kalo dikantor nggak ada aturan yang ketat) kita sering terlambat, Saat buka toko kita sering terlambat, saat membayar hutang, kita sering terlambat, bahkan saat Allah memanggil kita (Padahal kita hidup, bernafas, dan sehat hanya karena karuniaNya) kita sering terlambat.

Karena nggak ingin dibilang sok tahu, sombong, tidak suka menolong, dan tidak suka menabung (apa hubungannya coba?) saya pertama akan menceritakan bagaimana saya dalam menyikapi pengaturan waktu ini (aduh…bakal ketahuan jeleknya hehehe…)

Dulu (pake past tense ini ceritanya), saya adalah orang yang teramat sangat tidak menghargai waktu sama sekali. Persis dengan deskripsi saya diatas, saya sering terlambat kalo janjian. Janji jam 10 pagi, baru ngabari kalo telat jam 10.15, datangnya baru jam 11.30. Padahal, yang mengatur jam janjian saya sendiri. Telatnya bukan karena sibuk, jadwal tabrakan, atau hal hal yang diluar dugaan. Telatnya karena memang saya menunda nunda.

Dulu (sekali lagi make past tense), kalo janjian jam 10 di tempat yang membutuhkan waktu perjalanan 30 menit misalnya, saat jam 9 saya masih belum berkutik dan menyiapkan apa apa. pukul 9.30 saya masih berpikir “toh nanti bisa ngebut”. Pukul 9.45 saya berpikir “ah nanggung, dikit lagi aja”. Pukul 10.00 saya berpikir “toh sudah telat, ntar lagi sms ngabarin kalo tlat.” begitu seterusnya (malu-maluin sih, tapi memang seperti itu kenyataannya.

Untungnya, itu semua terjadi di masa lalu. Sekarang insya Allah sudah nggak seperti itu lagi.

Tentu saja, perubahan ini nggak terjadi begitu saja. Salah satu faktor pemicunya adalah, disaat saya mendapatkan email dari pak Wuryanano (melalui milis TDA) yang menyatakan bahwa beliau kecewa karena janjian dengan pak Danton sering miss. Walaupun setelah diselidiki lebih lanjut, ‘miss’nya janjian tersebut bukan disebabkan karena keterlambatan. Tapi lebih kearah pak Danton salah ngatur jadwal. Ini tetap menunjukkan bahwa orang cenderung tidak peduli pada alasan kita. Jadi seperti apapun alasan kita, kalo kita tidak memenuhi janji, ya tetap saja tidak memenuhi janji. Kalo kita telat, ya tetap saja kita telat. Dan tentu saja orang lain akan kecewa dengan diri kita.

Nah, setelah membaca tulisan pak Nano itu saya jadi tersentak (beneran kaget lo!) saya baru sadar kalo ternyata habit (mantan habit sebenernya) saya itu membawa potensi kerusakan yang amat sangat besar untuk reputasi saya. Dan tentu saja, saya harus berterima kasih pada pak Nano dan pak Danton untuk ‘peringatan’ ini (walaupun nggak dimaksudkan sebagai peringatan dan nggak ditujukan hanya untuk saya hehehe…).

Nah, nggak seberapa lama dari kejadian itu saya dapat kesempatan ikut previewnya Action International di Surabaya yang dibawakan oleh coach Han. Dan salah satu yang bikin saya kagum adalah, appresiasi beliau terhadap waktu (ketepatan waktu lebih tepatnya). Beliau sempat menunjukkan rasa tidak suka ketika ada peserta yang datang terlambat (udah gratis, telat lagi!). Dan setelah itu beliau menyuruh asistennya untuk menutup pintu dan supaya peserta selanjutnya yang datang lebih terlambat untuk dipersilahkan mengikuti sesi selanjutnya saja.

Nah, dari sinilah saya mulai mempelajari dan menghayati pentingnya menjaga ketepatan waktu.

Kembali ke pertanyaan semula, kenapa di saat saat tertentu kita justru suka sekali terlambat?

Dari pengalaman pribadi, ternyata jawabannya hanya mengenai kebiasaan dan attitude kita saja. Kalo kita sudah biasa terlambat, ya tentu itu akan menjadi sebuah praktek yang akan kita jalani sehari hari. Kalo lingkungan kita biasa molor, tentu saja lama kelamaan kita akan terpengaruh molor. Yang lebih parah adalah, kalo hal ini terjadi di usaha kita. Kirim barang telat, kasih kabar telat, bayar supplier telat, menghandle complain customer telat, dan telat telat lainnya… bisa GAWAT! Sampai sampai ada yang menipu dirinya sendiri dengan cara mempercepat jam tangannya! (hahaha… hayo ngaku…).

Terus darimana kebiasaan ini kita dapatkan? Mungkin sebagian kita masih ingat dengan masa masa sewaktu kita kuliah. Kalo ditempat saya, setiap dosen biasanya memberikan tenggang waktu (bahasa kerennya toleransi) keterlambatan sekian menit (biasanya antara 10-20 menit). Nah…. ini dia, ketahuan sebabnya. Karena sejak dari awal kita memang sudah dibiasakan untuk berpikir,”ah, telat dikit nggak masalah, ada tenggang waktunya kok”.

Nggak hanya itu, dosen dosennya pun sudah biasa ngaret telat. Memang nggak semua, tapi kebanyakan dosen selalu masuk lebih terlambat daripada waktu yang sudah ditentukan. Akibatnya, kebiasaan ini berlanjut ke seluruh mahasiswa. Contohnya, kalo kelas mulai jam 9 pagi, si ketua kelas nggak akan membuka kelas sebelum pukul 9 tet. terus nungguin mahasiswa yang lain masuk. Dan setelahnya dosen baru masuk (kadang jam 9.10). Kadang dosen masuk awal (tepat waktu) tapi keluar lagi dan menunggu 10 menitan untuk mahasiswa masuk kelas (sama aja bo’ong :p ).

Kenapa kelas nggak dibuka 10 menit sebelum perkuliahan dimulai? Kenapa dosennya nggak datang lebih awal? Kalo ada yang menjawab dikarenakan ketua kelas ada kuliah lain, atau dosennya sibuk, ya semua orang bisa beralasan seperti itu. Kuncinya ada di disiplin diri dalam membuat jadwal diri kita sendiri bukan?

Nah, karena telat ini disebabkan oleh kebiasaan, solusinya adalah mari kita rubah kebiasaan itu. Mari kita mulai dengan datang lebih awal setiap janjian. Dan mari kita disiplinkan diri kita sendiri untuk menepati jadwal yang kita buat.

Jadi bilang on time itu penting?! Nggak peduli siapa yang bilang, tapi kalo kita nggak on time, orang bakalan benci sama kita.

Saya tulis gini bukannya saya sudah perfect dalam urusan ini, tapi karena saya ingin sembari mengingatkan diri saya sendiri tentang pentingnya tepat waktu. 🙂

Iklan

Entry filed under: Bisnis, My Mind. Tags: , , , , , .

PERKASA (Perkemahan Kamis-Sabtu) Toko Online Anda Tidak Menghasilkan penjualan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Yang Paling Baru

Member of

Busana Muslim Image

Langganan Yuk!

Busana Muslim Image


%d blogger menyukai ini: