PERKASA (Perkemahan Kamis-Sabtu)

10 Februari 2008 at 11:58 pm 2 komentar

Jumat kemarin, ada acara seru yang diadakan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) ITS Surabaya. Acara rutin tahunan yang menyangkut penerimaan Mahasiswa Baru (MaBa) sebagai anggota penuh HMTI. Tentu saja, sebagai senior yang baik dan dalam rangka bertemu dengan teman teman lama yang sudah berpencar bekerja di luar kota Surabaya, Saya ikut menghadiri dengan niat membentak-bentak mengawasi jalannya acara dan tebar pesona mencari tahu seperti apa Camp tahun ini.

Acara diadakan di Bumi Perkemahan daerah Juanda Sidoarjo. Dan ini adalah yang paling dekat dengan kampus dibandingkan camp tahun tahun sebelumnya. Seperti biasa, setiap tahun pihak ITS selalu mencari cara untuk mengekang dan melarang diadakannya Ospek. Begitu juga dengan tahun ini, kabarnya pihak Rektorat ITS tidak mengijinkan adanya camp sehingga menyebabkan beberapa mahasiswa pengecut takut dan memutuskan untuk tidak mengikuti camp.

Ada dua hal utama yang akan saya bahas kali ini mengenai camp. Yang pertama menyangkut tindakan rektorat dalam melarangnya. Dan yang kedua mengenai pendapat mahasiswa sendiri tentang camp ini, termasuk mereka yang sedang menjalani tentu saja.

Berkaitan dengan larangan dan kekangan dari rektorat mengadakan camp, beserta larangan larangan dan aturan aturan seputar ospek, sudah jelas sekali bahwa pihak kampus terkesan tidak senang dengan diadakannya rangkaian ospek ini (termasuk camp). Alasannya jelas, menurut mereka ospek menghambat prestasi akademis mahasiswa. Selain itu, dalam rangkaian acara ospek ada yang namanya ‘pressing’. Suatu keadaan dimana mahasiswa baru ditekan secara mental oleh instruktur (panitia ospek) dengan tujuan untuk menanamkan nilai nilai tertentu. Sesi Pressing ini biasa diwarnai dengan bentakan bentakan dan kadang hukuman fisik seperti pushup dan bending.

Jika dilihat dari perkembangannya secara umum dari tahun ke tahun. Terdapat penurunan yang signifikan dalam bidang kerasnya bentakan dan ‘parah’nya hukuman fisik. Parahnya, pihak kampus masih merasa ‘kurang puas’ dalam mengurangi hal hal tersebut. Sehingga tidak jarang Himpunan Mahasiswa dan pihak rektorat sering main kucing kucingan dalam hal ini.

Jika dilihat dari alasan pihak rektorat, memang jika dilihat dari satu sisi ospek membuat maba kurang konsentrasi pada akademis mereka. Dikarenakan tugas tugas yang diberikan oleh panitia ospek yang sering memakan banyak waktu dan tenaga. Namun jika dilihat secara lebih luas lagi, apakah cukup dengan nilai akademis yang tinggi saja bisa menjadikan seseorang sukses? Tanpa adanya soft skill yang berupa kerjasama tim, leadership, serta stamina yang ‘lebih’ jarang seseorang dapat mencapai potensi maksimal diri mereka masing masing. Dan inilah yang mencoba diciptakan oleh panitia ospek.

Nah, kalo dilihat dari pendapat maba mengenai ospek dan camp, sepertinya memang pihak rektorat terkesan semaunya sendiri dan tidak memahami kemauan mahasiswa dalam melarang diadakannya camp.

Dari keterangan yang saya dapatkan dari maba sewaktu saya sedang membentak-bentak sharing dengan mereka, ternyata mereka sendiri mengakui pentingnya diadakan camp dan ospek. Bahkan ada salah satu dari mereka yang membandingkan dengan ospek jurusan lain, yaitu Teknik Mesin ITS (yang terkenal keras). Dia berkata bahwa setelah 6 bulan menjalani ospek yang ‘kejam’ di jurusan Teknik Mesin ITS, teman sekamar kostnya yang dulunya pendiam dan penakut berubah total menjadi lebih berani.

Dan tidak ada satupun yang mengatakan bahwa ospek itu nggak berguna (entah jujur atau karena takut sama saya hehehehe…). Dari sini seharusnya, pihak rektorat lebih memahami kepentingan para mahasiswa, dan menyadari bahwa tidak seharusnyalah mereka memaksakan kepentingan institusi (membuat seluruh mahasiswa memiliki prestasi akademis yang bagus) kepada para mahasiswa. Karena disadari atau tidak, mahasiswa punya kepentingan sendiri. Yang tidak jarang bertolak belakang dengan kepentingan institusi.

Iklan

Entry filed under: My Mind. Tags: , , , , .

Belajar Dari Newsletter Samsung Indonesia Siapa Bilang On Time Itu Penting?!

2 Komentar Add your own

  • 1. indrapamungkas  |  12 Februari 2008 pukul 10:17 am

    waduh mas, .masih pake tebar-tebar pesona segala, . .ingat anak dan istri menunggu dirumah, .heeeeee, .

    Nah, permasalahannya disini adalah, seberapa efektif ospek, camp dan sebagainya dibandingkan metode2 lain yang lebih ‘beradab’ dan ‘elegan’ yang mungkin bisa ditempuh sebagai alternatif pengganti ospek, misalnya, pelatihan, training2 dsb, . .belum lagi membicarakan masalah efisiensi waktu, energi, dan dana, . hummmm, . .

    PmgksLovePeace

    Balas
  • 2. Abu Ramza  |  12 Februari 2008 pukul 11:03 am

    Kan udah dicoret TP TPnya 🙂

    Tentang perbandingannya, tentu saja ada benefit dan loss yang akan didapatkan.

    Contohnya, ada peserta yang mengakui sendiri. Bahwa ospel Teknik Mesin yang biadab kejam mempunyai efek positif seperti yang saya tulis diatas.

    Yaitu, temannya yang ‘lebih pendiam’ dibandingkan dirinya, sekarang menjadi lebih berani diarenakan ospek di teknik Mesin lebih keras dibandingkan di teknik industri.

    Nah, kenyataannya dilapangan, dunia kerja adalah dunia yang keras. Nggak cukup dengan nilai saja kita bisa sukses. Tapi lebih dengan attitude dan mental 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Yang Paling Baru

Member of

Busana Muslim Image

Langganan Yuk!

Busana Muslim Image


%d blogger menyukai ini: